PT TWC dan ISI Yogyakarta Garap Misi Kemanusiaan Sektor Wisata Candi Borobudur

PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, Ratu Boko melibatkan kampus Institut Seni Indonesia atau ISI Yogyakarta untuk terlibat dalam misi kemanusiaan berkelanjutan di sektor wisata.

Direktur Utama PT TWC Edy Setijono menuturkan ISI Yogyakarta dipandang sebagai kampus yang paling pas untuk kerjasama bernama Asah Talenta Anak-Anak Pelaku Usaha Wisata Candi Borobudur dalam Bidang Seni dan Teater. “Di Candi Borobudur itu, sedikitnya ada 4.000- 5.000 anak-anak pedagang asongan yang perlu pendampingan agar memiliki masa depan lebih baik,” kata dia di Kampus ISI Yogyakarta, Kamis, 16 Desember 2021.

Edy menuturkan selama tiga periode gubernur Jawa Tengah, ada kecenderungan ribuan anak-anak pedagang asongan itu hanya dipersiapkan untuk meneruskan usaha asongan orang tuanya. “Ini jadi keprihatinan kami, sehingga mencoba mencari cara bagaimana agar anak-anak ini mendapatkan kesempatan edukasi lebih baik, khususnya di bidang seni budaya yang masih berkaitan dengan sektor wisata,” ujarnya.

Menurut Edy, kawasan Candi Borobudur sendiri saat ini tengah menyiapkan lahan sekitar 10 hektare untuk pembangunan Pasar Seni dan UMKM untuk menata para pedagang asongan itu. Namun tak hanya soal fisik yang ditata, TWC pun membidik pengembangan seni dan budaya berkelanjutan, salah satunya melalui kerjasama dengan ISI Yogyakarta.

Anak-anak para pedagang itu, dari kerjasama dengan ISI Yogyakarta ini diharapkan memiliki berbagai bekal keterampilan seni dan budaya untuk ke depan menguatkan eksistensi Candi Borobudur. “Tahap awal kerjasama mungkin bidang seni dan teater, namun selanjutnya kerjasama ini bisa ke bidang seni lainnya seperti Kriya dan lainnya,” kata Edy.

Sebab, menurut Edy, dari sisi komoditas kerajinan di Candi Borobudur juga perlu edukasi untuk rebranding agar produk produknya lebih khas dan menarik. “Jadi produk-produk kerajinan yang ada di Borobudur ke depan sebisa mungkin tidak sama dengan yang dijual di Malioboro atau tempat lainnya,” ujarnya.

Edy mengatakan saat ini pihaknya juga tengah menyiapkan kelanjutan program Indonesian Heritage Management Corporation (IHMC) yang sempat terkendala karena pandemi Covid-19. Konsep ini berupa layanan manajemen heritage site yang tak berfokus pada tiga candi utama saja plus Taman Mini Indonesia Indah atau TMII.

Sebagai tahap awal sebelum pandemi, PT TWC telah merevitalisasi Pabrik gula Colomadu yang berdiri tahun 1861 di Karanganyar menjadi destinasi sejarah dengan nama De Tjolomadoe. “Dengan meredanya pandemi saat ini, kami menargetkan revitalisasi bangunan sejarah berupa supermarket pertama di Sumatera Utara, Warenhuis yang berdiri 1919,” kata Edy.

Rektor ISI Yogyakarta Agus Burhan mengatakan ruang lingkup nota kesepahaman dengan PT TWC ini meliputi kegiatan pemberdayaan serta pendampingan anak-anak pelaku usaha wisata di wilayah Borobudur dalam bidang seni, budaya dan pariwisata. “Kerjasama ini juga meliputi upaya pemerataan terhadap potensi keragaman budaya dan wisata, serta implementasi program Kampus Merdeka- Merdeka Belajar di wilayah Borobudur,” kata dia.

Agus menuturkan dengan 23 program studi seni yang dimiliki ISI Yogyakarta, pihaknya bisa terlibat dalam pemberdayaan di sektor wisata. “Tempat bernilai sejarah tentu diharapkan bisa memberikan kemanfaatan dan pemberdayaan pada masyarakat. Lewat kegiatan asah talenta ini, upaya kita untuk memberdayakan anak-anak pelaku usaha wisata sebagai sumber daya yang mempunyai kompetensi dan keahlian,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.